Belajar Sedikit tetapi Berulang: Apa Kata Riset Terbaru untuk Mahasiswa Kesehatan?

Pernah merasa sudah memahami satu bab ketika membacanya, tetapi kesulitan menjelaskan kembali saat diskusi? Coba bayangkan situasi berikut: buku masih terbuka, istilah terasa akrab, dan penjelasan terlihat masuk akal. Ketika buku ditutup, urutan gagasannya justru sulit ditemukan.

Situasi seperti ini mengundang pertanyaan penting tentang cara belajar. Apakah waktu belajar selama ini memberi kesempatan untuk mencoba menjawab sendiri? Apakah materi hanya dipelajari menjelang ujian, atau dikunjungi kembali pada hari berbeda?

Pada 2026, sebuah meta-analisis di The Clinical Teacher menambah bukti mengenai pengulangan berjeda dalam pendidikan kedokteran. Temuannya relevan untuk membicarakan kebiasaan belajar mahasiswa kesehatan, sekaligus mengingatkan bahwa nilai ujian, ingatan jangka panjang, dan kompetensi klinis merupakan hasil yang berbeda.

Dua gagasan yang perlu dibedakan

Spaced repetition berarti mengulang materi melalui beberapa sesi yang dipisahkan oleh jeda waktu. Sementara itu, retrieval practice merupakan latihan mengambil kembali informasi dari ingatan, misalnya mencoba menjawab pertanyaan sebelum melihat catatan.

Keduanya dapat dipadukan. Setelah mempelajari satu konsep, mahasiswa menjawab pertanyaan tanpa buku, memeriksa jawabannya, kemudian mencoba kembali pada kesempatan berikutnya.

Tinjauan sistematis Trumble dan kolega, yang dimuat dalam Advances in Health Sciences Education pada 2024, mencakup 56 artikel dengan 63 eksperimen. Secara keseluruhan, bukti mendukung manfaat latihan berjeda dan latihan mengingat terhadap hasil akademik pendidikan profesi kesehatan. Namun, desain, pembanding, dan bentuk penilaiannya beragam. Peneliti juga menekankan perlunya memperhatikan waktu yang digunakan peserta untuk belajar. Trumble dkk., 2024

Apa yang ditambahkan penelitian 2026?

Maye dan Hurley memasukkan 14 studi dalam tinjauan sistematis, dengan 13 studi masuk ke meta-analisis yang mencakup 21.415 pembelajar. Hasil gabungannya mendukung pengulangan berjeda dibandingkan teknik belajar standar dalam tes objektif.

Besarnya perbedaan dilaporkan sebagai standardised mean difference atau SMD sebesar 0,78, dengan interval kepercayaan 95% sebesar 0,56–0,99. Ini bukan berarti nilai mahasiswa naik 78%. SMD merupakan ukuran perbedaan hasil yang distandardisasi agar penelitian dengan skala penilaian berbeda dapat digabungkan.

Intervensinya juga beragam: kartu belajar, soal pilihan ganda melalui surel, serta kuis kelas berjeda. Dengan demikian, hasil tersebut tidak membuktikan keunggulan satu aplikasi tertentu. Penulis menyatakan bahwa rancangan terbaik dan dampak terhadap kinerja jangka panjang masih memerlukan penelitian. Maye dan Hurley, 2026

Bukti digital menjanjikan, tetapi tetap memiliki batas

Tinjauan Martinengo dan kolega di Journal of Medical Internet Research pada 2024 mencakup 23 studi tentang pendidikan digital berjeda bagi pembelajar dan tenaga kesehatan.

Dalam gabungan sembilan studi, pembelajaran daring berjeda memberikan hasil pengetahuan pascaintervensi yang lebih baik dibandingkan pembelajaran daring yang dipadatkan, dengan SMD 0,32 dan interval kepercayaan 95% sebesar 0,13–0,51. Kepastian bukti untuk perbandingan ini dinilai sedang.

Namun, variasi antarstudi cukup besar, dan sebagian besar penelitian dilakukan di negara berpendapatan tinggi. Temuan tersebut mendukung penggunaan pendekatan berjeda, tetapi tidak menetapkan durasi sesi atau jarak pengulangan yang paling tepat bagi setiap mahasiswa dan setiap materi. Martinengo dkk., 2024

Ketiga publikasi ini merupakan sintesis penelitian, bukan sekadar pendapat tentang kebiasaan belajar. Meski demikian, ketiganya tidak boleh dijumlahkan seolah-olah seluruh penelitian dasarnya pasti berbeda; tinjauan pada bidang yang sama dapat mencakup studi yang bertumpang tindih.

Contoh penerapan selama satu minggu

Berikut contoh rancangan belajar yang dapat disesuaikan dengan jadwal kuliah. Jadwal ini merupakan saran praktis, bukan protokol baku yang diuji oleh ketiga tinjauan tersebut.

Hari pertama: pilih satu tujuan kecil. Misalnya, memahami perbedaan sensitivitas dan spesifisitas dalam mata kuliah epidemiologi. Baca bahan kuliah, kemudian buat tiga pertanyaan: apa definisinya, apa perbedaannya, dan bagaimana menerapkannya pada contoh sederhana.

Hari kedua: jawab sebelum membuka catatan. Tuliskan jawaban dengan bahasa sendiri. Setelah itu, periksa dengan sumber kuliah. Tandai bagian yang keliru atau belum lengkap, lalu tulis perbaikannya. Jika menemukan perbedaan antarreferensi, catat untuk ditanyakan kepada dosen.

Hari keempat: ubah bentuk pertanyaannya. Gunakan tabel atau contoh angka yang berbeda. Tujuannya adalah memeriksa apakah Anda dapat menggunakan konsep pada situasi lain, bukan hanya mengingat bunyi jawaban sebelumnya.

Hari ketujuh: jelaskan kepada teman. Minta teman mengajukan satu pertanyaan lanjutan. Kemudian tentukan materi mana yang perlu dipelajari kembali. Bila penjelasan masih membingungkan, kembali ke sumber dasar sebelum menambah kartu baru.

Waktunya dapat dibuat singkat dan realistis, misalnya satu sesi 10–15 menit sebagai titik awal pribadi. Angka tersebut hanyalah contoh pengaturan waktu, bukan durasi optimal berdasarkan penelitian. Sesuaikan dengan kesulitan materi dan beban kegiatan Anda.

Membuat pertanyaan yang berguna

Sebagai usulan penyusunan bahan belajar, mulailah dari tujuan pembelajaran dosen. Hindari memasukkan satu halaman penuh ke dalam satu kartu. Pilih pertanyaan yang cukup jelas sehingga Anda dapat menilai apakah jawabannya tepat.

Untuk konsep, tambahkan pertanyaan “mengapa” atau “bagaimana”. Untuk istilah yang mirip, buat pertanyaan perbandingan. Untuk materi yang memerlukan penerapan, gunakan contoh kasus pembelajaran yang sudah diperiksa pengajar.

Simpan sumber pada catatan jawaban: judul buku, halaman, bahan kuliah, atau pedoman yang digunakan. Kebiasaan ini memudahkan pemeriksaan ketika jawaban terasa meragukan atau materi diperbarui.

Anda dapat menggunakan kartu kertas, buku kecil, atau alat digital yang sudah tersedia. Dalam rancangan sederhana ini, yang perlu direncanakan adalah pertanyaan, kesempatan menjawab, pemeriksaan jawaban, dan waktu kembali mempelajarinya.

Nilai tes bukan seluruh kompetensi

Hasil penelitian tentang tes pengetahuan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang sudah terampil berkomunikasi dengan pasien, melakukan pemeriksaan, atau menjalankan prosedur. Klaim keberhasilan harus mengikuti kemampuan yang benar-benar dinilai.

Karena itu, sebagai pertimbangan penerapan, latihan mengingat dapat ditempatkan bersama diskusi kasus, praktikum, simulasi, dan umpan balik pembimbing sesuai kurikulum. Mahasiswa dapat mencatat bagian yang sudah mampu dijelaskan serta bagian yang masih perlu ditunjukkan atau dilatih secara langsung.

Bagi dosen, salah satu contoh kegiatan adalah membuka pertemuan dengan beberapa pertanyaan dari materi sebelumnya, memberi kesempatan menjawab, lalu membahas alasan di balik jawaban. Pelaksanaannya tetap perlu dievaluasi menurut konteks kelas.

Mulailah dari satu topik minggu ini. Buat tiga pertanyaan, jawab tanpa catatan, periksa kesalahan, lalu jadwalkan kesempatan berikutnya. Setelah beberapa sesi, perhatikan perubahan pada kemampuan Anda menjelaskan dan menerapkan materi—bukan hanya banyaknya kartu yang selesai dibuka.

Daftar pustaka

  1. Maye JA, Hurley F. The Effectiveness of Spaced Repetition in Medical Education: A Systematic Review and Meta-Analysis. The Clinical Teacher. 2026;23(2). DOI: 10.1111/tct.70353.

  2. Martinengo L, Ng MSP, Ng TDR, dkk. Spaced Digital Education for Health Professionals: Systematic Review and Meta-Analysis. Journal of Medical Internet Research. 2024;26. DOI: 10.2196/57760.

  3. Trumble E, Lodge J, Mandrusiak A, Forbes R. Systematic review of distributed practice and retrieval practice in health professions education. Advances in Health Sciences Education. 2024;29:689–714. Terbit daring 2023. DOI: 10.1007/s10459-023-10274-3.

Komentar